February 18th, 2009 by catur

Our life is so filled with expectations of success that we hardly even meet them. And when we do, it’s not what we thought it was going to be. Only about 5% of the population actually become successful in their lives – true success. They are the ones that are able to unleash the power of their minds.

What is it that success means to you? If you cannot answer that truthfully, then don’t be alarmed. You are just like 95% of the population that have tried and could not answer that simple question. Most people that pursue success – never really become successful. Because, we’re never change.

Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, ia beruntung.

Saya sadar betul. Kita tidak dapat menghentikan lajunya perubahan, yang dapat kita lakukan adalah bagaimana kita mengelola dan menyiapkan diri sebelum dan selama perubahan itu terjadi. Dengan semakin banyaknya pesaing masuk ke arena bisnis kita, semakin berkompetisinya tenaga kerja  merupakan tantangan bagi kita. Bukan  sebaliknya membuat kita terpuruk dan tak berdaya. Pasrah digilas perubahan.
Banyak rekan-rekan di lingkungan kerja yang saya amati selama ini menganggap ‘perubahan’ menjadi momok yang menakutkan dan harus dihindari.  Takut kehilangan posisi, pamor, merasa tersaingi dengan kedatangan pegawai baru, pengawasan lebih ketat, merasa lebih complicated, atasan berkurang kepercayaan, pendapatan menurun, karir lebih sulit diperoleh dll karena adanya sistem baru. Ketidakmampuan kita menerima perubahan membuat ketakutan dan keresahan hati timbul menyelimuti pikiran. Kekhawatiran seperti itu rasanya tidak perlu ada sepanjang kita dapat menyikapinya dengan positif. Kita perlu percaya bahwa di dunia kerja manapun dan kapanpun perubahan di dalam organisasi pasti terjadi dan itu merupakan dinamika dunia kerja dan proses pembelajaran menuju peningkatan.
Perubahan dalam segi apapun tidak selalu berjalan mulus. Padahal ketika terjadi dinamika perkembangan berbagai segi kehidupan, perubahan itu merupakan keharusan. Misalnya perubahan dalam hal visi dan misi, struktur organisasi, pengembangan inovasi, dsb. Perubahan yang terjadi seharusnya dilihat dari dinamika perspektif personal karyawan termasuk kepemimpinan perusahaan,  dan keorganisasian. Kalau tidak berubah maka perusahaan itu bakal tergilas oleh perubahan itu sendiri.

Mengapa masih ada yang menolak perubahan ?
Pertama, rencana perubahan belum dipahami oleh sebagian individu manajemen. Belum jelas apa latar belakang, tujuan dan, manfaat, strategi dan langkah-langkah perubahannya. Untuk menghindari resistensi maka sangat diperlukan melakukan langkah-langkah indentifikasi masalah; analisis masalah; menetapkan tujuan perubahan yang dicirikan spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki kerangka waktu yang jelas; menyusun alternatif jenis perubahan; menentukan opsi jenis kegiatan perubahan; dan memutuskan perubahan apa yang harus dilakukan. Untuk itu diperlukan pembahasan yang intensif di kalangan manajemen. Kalau sudah disepakati maka diperlukan sosialisasi kepada seluruh karyawan.
Kedua, rencana perubahan ditolak oleh sebagian karyawan, misalnya dalam hal kebijakan perubahan manajemen kompensasi dan pengembangan karir yang kurang menunjukkan pertimbangan rasa keadilan dan persamaan hak. Untuk menghindari resisitensi, setiap bentuk perubahan hendaknya harus menyangkut kepentingan semua pihak. Tidak saja kepentingan perusahaan tetapi juga buat karyawan. Pertimbangannya karena karyawan adalah aset produksi sekaligus aset perusahaan yang memiliki ragam kebutuhan. Secara manusiawi mereka ingin diperlakukan secara adil.
Ketiga, resistensi bisa terjadi karena dalam pelaksanaannya ternyata telah ditemukan penyimpangan dari rencana perubahan yang disepakati semua pihak. Disini diperlukan pemantauan dan evaluasi secara berkala. Utamanya untuk menghindari deviasi negatif. Untuk itu dibutuhkan alat ukur yang obyektif untuk menilai sejauh mana proses perubahan telah berhasil sesuai harapan. Disamping itu kepada semua individu dilibatkan untuk melakukan observasi pelaksanaan perubahan. Mereka diberi hak untuk melaporkan kalau terjadi kekeliruan. Disinilah diperlukan pendekatan yang transparan dan akuntabilitas.
Keempat, sebagian manajemen atau individu karyawan sudah “senang” dengan kondisi yang ada. Mereka tergolong yang sudah mapan pada posisi pekerjaannya. Menurutnya buat apalagi susah-susah melakukan perubahan. Dianggapnya kalau terjadi perubahan pasti akan  menimbulkan resiko yang tidak kecil. Untuk mencegah timbulnya jenis resistensi seperti ini pihak manajemen puncak harus melakukan sosialisasi yang intensif mulai dari manajemen menengah sampai di tingkat operasional. Pemahaman tentang perlunya pembaharuan perlu dikembangkan secara sistematis. Karena itu perlu juga disosialisasikan betapa pentingnya perusahaan harus siap dengan tantangan yang adaptif dan respon atau kepekaan yang adaptif. Mengapa demikian? Karena apa yang terjadi pada dunia bisnis adalah suatu ketidakpastian.

Bagaimana dengan Anda ?

Dunia telah bergeser dan berubah, mengapa Anda tidak juga berubah ? Jika Anda ingin lebih berhasil dalam kehidupan ini, sudah selayaknya Andapun berubah. Lakukanlah hal-hal yang baru, kebiasaan-kebiasaan baru yang baik, serta perlakukanlah diri Anda dengan cara yang baru pula. Asahlah terus kemampuan Anda sehingga Anda memperoleh kemampuan dan pengalaman yang baru. Kalau Anda sudah puas dengan apa yang Anda peroleh sekarang dalam kehidupan ini, ini menandakan Anda tidak ingin berubah. Anda sudah terlena dengan apa yang telah Anda miliki, padahal dunia setiap saat berubah.
Merasa tidak nyaman dan takut mengambil resiko yang akan terjadi, merupakan alasan mengapa kita sulit untuk berubah. Perasaan takut gagal, takut salah, takut ditegur  atasan, takut kelemahan diketahui oleh orang lain, takut diremehkan atau ditertawakan, serta takut-takut lainnya adalah membuat kita semakin sukar untuk menghadapi perubahan.
Apakah kita ingin seperti orang-orang jenis ini yang sangat pandai membuat alasan serta pembenaran terhadap tindakannya. Padahal yang dilakukan hanyalah bersembunyi terhadap perubahan yang sedang terjadi dan tanpa mereka sadari, dunia lambat laun akan mengubah mereka secara paksa.

There is nothing permanent but CHANGE !

Leave a Reply