April 30th, 2009 by catur

Waktu tlah berlalu. Ini adalah sore hari yang lain. Kuhabiskan di sebuah pantai yang tlah kukenal sebelumnya. Namun kini ada sesuatu yang berbeda. Angin yang datang sudah tak lagi membelai. Ia menampar. Anehnya, aku tak juga beranjak dari pantai ini. Aku ingin menunggu senja.
Tuhan tidak menyuruhku untuk melupakan. Merelakan saja cukup. Dan, ternyata itu pun belum sepenuhnya bisa kulakukan. Dan, senja seolah berbisik bahwa ia tahu kalau ini sulit. Seperti sore-sore yang lain, aku habis didekap pemakluman dari sang senja. Setelahnya, yang ada adalah aku luruh di pasir-pasir yang mulai gelap. Sendirian.

Aku suka senja. Dia adalah batas diantara terang dan gelap. Aku suka berada diantaranya.Aku ingin senja yang selalu pamit jika dia mau pergi. Aku ingin malam yang selalu menyelimuti di saat aku dingin, gerah, dan lelah.

Seribu harapan kutambatkan pada ranting kayu yang lapuk. Pada dahan rimbun nan kokoh.
Aku pernah menjadi bahu tempat bersandar. Aku pun pernah menjadi tiang tempat berpegang tanpa pamrih dan imbalan.

Harapan itu kini kutambatkan kepada Allah Sang Pencipta, melewati do’a, aku meminta
“ ya Allah, jadikanlah dia penyejuk hatiku, setelah kalam-Mu dan cinta-Mu”

2 Responses to “Senja di Teluk Jakarta”

  1. It’s wasn’t a proof that U were there…
    Cant See Ur Pict there

  2. Truly, i was there. Just because i’m too old to show off at that place.
    My story has told U enough, isn’t it ?

Leave a Reply