June 20th, 2009 by catur

Rasulullah bersabda:
“Jika Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan mengujinya”
“Tidak satu musibah pun yang menimpa seorang muslim, kecuali Allah akan menghapus dosa-dosa orang itu dengan musibah tersebut, hingga duri yang menancap di kakinya”.

Keringat yang membasahi hampir seluruh tubuhku tak aku pedulikan. Tak juga sempat aku menyekanya. Karena aku memang tidak mau. Aku harus terus berlari. …
Dadaku terasa sesak, seolah dihantam oleh ribuan anak panah. Nafasku tersengal. Ada Perih. Luka-luka bermunculan dari tubuh ini. Bukan darah yang keluar dari luka, lebih dari itu. Perasaan yang menyayat, menyakitkan hati.

Lalu kataku, “Tidak, aku harus berani. Aku harus kuat. Aku harus bertanggung jawab”
Akupun berlari dan terus berlari. Yang ada dipikiranku saat ini adalah bagaimana bisa berlari dengan kencang menjauhi tempat itu. Berkali-kali kakiku yang tanpa alas itu berbenturan dengan kerikil-kerikil yang ada di jalan-jalan itu. Aku terus berlari. Aku takut. Aku berlari menembus kegelapan malam dengan kekuatan yang entah darimana datangnya.

Dan dalam lelahku….
Aku berbicara kepada diriku sendiri, “Ah, sekarang aku mengerti. Aku tak seharusnya lari dari kejaran ketakutan. Dia harus dihadapi, bukan dihindari. Meski tubuhku penuh luka, aku harus terus hidup. Aku harus terus hidup untuk tidak mengulangi kesalahanku di masa lalu. Aku harus terus hidup untuk mencegah orang lain melakukan hal bodoh yang pernah kulakukan. Aku harus terus hidup untuk membantu orang lain menghadapi kejarannya.”

“…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.”

Seringkali kurasakan semakin lama perjalanan ini kian berat. Akhir dari segala sesuatu sangatlah jauh, dan aku tidak memiliki kekuatan ataupun semangat untuk melanjutkannnya lagi.
Tetapi bagaimanapun juga, pada waktu-waktu yang paling sulit, Alloh selalu menyertaiku, mendukungku dan terus menopangku. Aku masih teringat bagaimana rasanya ketika aku hampir mendekati garis akhir dari suatu perlombaan lari. Aku sungguh-sungguh merasakan kesakitan dan sukacita pada saat yang bersamaan. Sukacita karena akhirnya aku dapat menyelesaikannya dan hampir mencapai garis akhir. Sakit karena aku berlari dengan rasa perih di kakiku selama beberapa mil terakhir.
Meskipun rasa sakit dan perih itu ada, aku terus berlari, berlari mendahului rasa sakit dan letih karena mataku terus tertuju kepada akhir dari perlombaan itu.

Kadangkala, aku merasa terbeban dan tertekan dengan banyaknya masalah yang membuatku lelah. Aku berkata kepada Alloh bahwa aku sudah tidak sanggup lagi memikul beban itu dan aku ingin menyerah. Betapa menakjubkannya bagaimana Alloh mendengarkan tangisan dan permohonanku, membebaskanku dari beban-bebanku serta memberikanku hati yang penuh damai dan sukacita.

Aku harus terus berjuang.
Aku harus terus berlari. Bukan untuk menghindar tapi untuk mencapai garis akhir.

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153)

Leave a Reply