April 29th, 2010 by catur

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis ?”.
Ibunya menjawab, “Sebab, aku perempuan.”
“Aku tidak mengerti Ibu”, kata anak lelaki itu.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan mengerti…”
Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis ?”
Sang ayah menjawab, “Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas..”. “Semua perempuan memang menangis tanpa ada alasan.” Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.

Hingga kemudian si anak lelaki itu tumbuh dewasa, dan tetap menyimpan tanya. “Tuhan, mengapa perempuan mudah sekali menangis ?” Dalam pencariannya, ia temukan sebuah jawab.
Ketika Sang Pencipta menciptakan Pria, maka Ia juga menciptakan wanita untuk menemaninya. Ia mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah, sinar dari matahari, tetes embun, dan tipuan angin. Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak, kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bulbul, kepalsuan dai burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.
Dengan mencampurkannya semua bahan itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita dan memberikannya kepada pria. Dan akhirnya, Tuhan memberikan air mata agar wanita dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Ia berikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita.
Kelemahan ini pula yang mampu meluluhkan kekerasan pria. Ia mampu memberikan kehangatan dan kenyamanan dalam dekap lembutnya.

(diantara perjalanan jakarta-jogja. ada yang aku rindu)

Leave a Reply