May 30th, 2010 by catur

overtime

Seringkali pertanyaan ini muncul. “Long weekend. Kemana aja nih…?” Sebuah kalimat tanya yang akhir-akhir ini sering muncul dan seolah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Lifestyle kaum borju. Nampaknya istilah itu menjadi euphoria baru bagi kalangan urban dan pekerja. Rame-rame mudik. Stasiun, bandara, dan terminal padat ! Tiket habis !

Bagaimana tidak ? Jika hari Jumat hingga Ahad libur, itu berarti saatnya plesir. Menyegarkan diri setelah rutinitas kerja selama 1 minggu. Lihat saja tempat-tempat wisata, atau pusat-pusat perbelanjaan. Penuh sesak oleh pengunjung. Tapi, lihatlah toko buku, perpustakaan kota. Sepi….nyenyet…hening. Ironis memang ! Jogja yang katanya kota pelajar, tidak ada samasekali nuansa liburan yang lebih ’terpelajar’. Cobalah keliling kota, tidak satupun dijumpai spanduk atau ajakan untuk berlibur ke perpustakaan, atau sekedar membeli buku. Yang di-diskon cuma fashion dan sejenisnya. Huhh….miris juga.

Tentu orang ekonomi bilang. ”Jangan cuma dilihat dari segi itu dong. Cobalah dilihat dari sudut yang lebih makro. Tahu nggak, berapa uang yang beredar selama liburan ? Berapa persen kenaikan omset para PKL ? Berapa persen kenaikan tingkat hunian hotel ? Berapa rupiah uang masuk ke kas daerah ?” Halah….emang saya nggak belajar ekonomi ? Semua selalu saja diukur dengan materi dan finansial. Apakah ini yang dimaksud dengan ekonomi kapitalis ? Meski gak cumlaude, saya juga jebolan fakultas ekonomi bung… Sudahlah, saya tidak mau berpolemik. Itu kan cuma pendapat saya saja. Karena saya memang tidak mampu menghabiskan waktu untuk berlibur. Gitu kan…?

Ada yang perlu kita renungkan kembali. Benarkah mereka ‘stress’ atau ‘sumpek’ setelah bekerja dalam 1 minggu ? Pengalaman saya bekerja lebih dari 15 tahun membuktikan, dengan beban kerja yang boleh  dibilang ‘super’; saya dan teman-teman tetap saja merasa enjoy, nyaman, tanpa keluh-kesah. So, kalau ada yang bilang kecapekan, stress, de-el-el; padahal mereka bekerja ‘kantoran’; menurut saya mereka hanya manja, ‘aleman’.

Memang, resfreshing itu perlu. Apalagi bagi para pekerja atau pegawai yang sudah berkeluarga. Tentu saja, anggota keluarganya juga butuh perhatian dan kebersamaan. Namun tentu tidak harus dengan mengeluarkan ongkos yang boleh dibilang ‘over budget’ kan ?.

Seperti minggu ini, yang harus kami lalui dengan lembur di kantor. Kata teman, saya termasuk golongan POD (persatuan orangtua dholim). Hah…? Ya, karena tega meninggalkan keluarga meski long weekend. Demi sesuap nasi dan segenggam asa. Berharap proyek tahun ini lolos. Halah…sok puitis lagi. :))

Semoga tahun ini adalah tahun penuh kesuksesan den kecemerlangan ! Selamat berjuang kawan. Pengorbanan kalian tidak akan pernah sia-sia.

Leave a Reply