August 20th, 2011 by catur
Aku cium aromanya perlahan. Harum, manis, sangat khas.
Aku teguk sedikit demi sedikit. Panas, pahit, manis.

Untuk secangkir kopi yang membakar lidahku saking panasnya, terima kasih sudah menemaniku.
Sudah cukup lama kita tak saling bicara.
Bahkan tak cukup waktu sepertinya untuk kita saling menyapa atau sekedar bertanya kabar.
Kau menghilang dan akupun pergi. Langkah kita terpisah. 

Barangkali memang layak kita menertawakan perjalanan kita yang lampau.
Seperti ada bayang keindahan yang sedang kita nikmati
yang tersembunyi dari balik kepekatannya yang kita cicipi.
Kita mulai berbicara soal hari esok, sebelum pagi menjelang.

Aroma tajam yang aku hirup meleburkan lelah-ku, seperti menguap bersama udara.
Kita saling melempar senyum dan memulai cerita tentang kita kembali.
Mengendap bersama ampas yang tersisa dari tiap sesap 
dan aroma yang telah kita seduh bersama.
Sengaja kita biarkan ia mengalir, meresap dan mengendurkan lelah 
dari rindu di antara kita.
Mengembalikan langkah kita yang terpisah.
Sejenak, dari secangkir kopi yang kunikmati sendiri malam ini bersama sunyi,
ku pencet huruf demi huruf TravelMate.
Memaksaku untuk tetap terjaga.
Menumpahkan semua ingatan tentang kita.
Menyulut rindu yang terpisah arah. Kemudian menguap.
Tapi  manis dan pahit masih melekat dan keharumannya pun masih tersisa.

Saya mampir sobat, menyusuri jejak secangkir kopimu semalam.
Secangkir kopi selalu memberi kehangatan.
Semoga secangkir kopimu dapat juga menghangatkan jiwamu.
Aku datang lagi dengan secangkir kopi pula
untuk menghimpun kembali jejak-jejak langkah tertunda.
Takkan kubiarkan semangat ini terhapus dari dalam hidupku.

Secangkir torajan coffee...
bantu aku terjaga malam ini.
 

Leave a Reply