April 22nd, 2010 by catur

HOT stuff !!

Jika, seandainya, kalau, if fasilitas facebook di rumah, kantor, sekolah atau dimana saja anda di-blok, jangan kuatir. Ada sebuah website yang menyediakan diri–berbaik hati untuk menjadi proxy.

Penasaran ? coba saja website ini http://faceb00k.in/

Tapi ingat ! informasi ini bukan untuk tujuan tidak baik. Semata-mata untuk tujuan pembelajaran. Segala resiko yang ditimbulkan menjadi tanggung jawab pengguna.

Selamat mencoba…

December 5th, 2009 by catur

Penulis : Eri Sarimanah

(http://eri-s-unpak.blogspot.com)

Tes hasil belajar adalah salah satuan alat ukur yang paling banyak digunakan untuk mengetahui hasil belajar seseorang dalam proses belajar-mengajar atau suatu program pendidikan. Karena sedemikian banyak tes itu digunakan dalam dunia pendidikan, maka ada baiknya bila kita mengetahui kelemahan dan kekurangan tes sebagai alat ukur hasil belajar. Kelemahan tersebut antara lain :
1. Hampir semua tes hanya dapat mengukur hasil belajar yang bersifat kognitif dan keterampilan sederhana. Kalaupun ia dapat mengukur hasil belajar yang esensial, maka kontruksi tesnya membutuhkan waktu dan keterampilan yang tinggi. Misal, dalam pelajaran agama. Tes hasil belajar sangat sukar untuk dapat mengukur tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang.
2. Hasil tes acapkali disalahgunakan. Hasil tes kerap dianggap sebagai gambaran yang sahih dari kemampuan dan pengetuan seseorang. Sedangkan butir soal tes hanya mengukur suatu serpihan pengetahuan atau keterampilan yang sangat kecil dari suatu keutuhan pengetahuan dan keterampilan seseorang. Disamping itu hasil tes acapkali dianggap sebagai suatu yang permanen. Sedagkan sesungguhnya hasil tes selalu berubah, dapat berkembang atau berkurang. Karena memang pada hakikatnya hasil tes itu selalu berubah.
3. Dalam proses pelaksanaannya, tes selalu menimbulkan kecemasan. Sungguhpun kadar kecemasan yang timbul pada setiap orang tidak sama., namun tetap saja kecemasan tersebut dapat mengakibatkan hasil tes yang diperoleh dalam tes menyimpang dari kenyataan yang ada dalam diri peserta tes.

Adapun dasar-dasar penyusunan tes hasil belajar adalah sebagai berikut :
1. Tes hasil belajar harus dapat mengukur hasil belajar yang diperoleh setelah proses balajar-mengajar sesuai dengan tujuan instruksional yang tercantum dalam kurikulum.
2. Butir tes hasil belajar harus disusun sedemikian rupa sehingga perangkat tes yang terbentuk benar-benar mewakili keseluruhan bahan yang tekah dipelajari.
3. Perangkat tes hasil belajar hendaknya mengukur keseluruhan aspek kompetensi yang diharapkan dan keseluruhan tingkat kemampuan hasil belajar yang diharapkan.
4. Perangkat tes hasil belajar hendaknya disusun dari berbagai bentuk dan tipe butir soal sesuai dengan hakikat hasil belajar yang diharapkan.
5. Interpretasi hasil belajar disesuaikan degan pendekatan pengukuran yang dianut apakah mengacu pada norma kelompok (norm reference) ataukah mengacu pada patokan criteria tertentu (criterion reference)
6. Hasil tes hasil belajar hendaknya dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar-mengajar.

Setelah anda memahami dasar-dasar penyusunan tes, selanjutbya Anda harus memahami bentuk dan bagaimana penulisan butir soal. Secara garis besar bentuk tes dibagi dalam dua kelompok besar yaitu tes uraian dan tes objektif. Lebih jauh tentang keduan tes tersebut akan dijelaskan dibawah ini.

Tes Uraian/esai

Pengertian tes uraian adalah butiran soal yang mengandung pertanyaan atau tugas yang jawaban atau pengerjaan soal tersebut harus dilakukan dengan cara mengekspresikan pikiran peserta tes secara naratif. Cirri khas tes uraian ialah jawaban terhadap soal tersebut tidak disediakan oleh orang yang mengkontruksi butir soal, tetapi dipasok oleh peserta tes. Peserta tes bebas untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Setiap peserta tes dapat memilih, menghubungkan, dan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Jadi perbedaan utama tes objektif dan uraian dalah siapa yang menyediakan jawaban atau alternative jawaban sudah disediakan oleh pembuat soal. Dengan pengertian diatas maka pemberian skor terhadap soal uraian tidak mungkin dilakukan secara objektif.

Setiap bentuk butir soal memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan soal uraian adalah :
1. Tes uraian dapat dengan baik mengukur hasil belajar yang kompleks. Hasil belajar yang kompleks artinya hasil belajar yang tidak sederhana. Hasil belajar yang kompleks tidak hanya membedakan yang benar dari yang salah, tetapi juga dapat mengekspresikan pemikiran peserta tes serta pemilihan kata yang dapat memberi arti yang spesifik pada suatu pemahaman tertentu. Apabila yang diukur adalah kemampuan hasil bekajar yang sederhana, yaitu memilih suatu yang lebih benar atau yang lebih tepat, maka sebaiknya menggunakan tes objektif.
2. Tes bentuk uraian terutama menekankan kepada pengukuran kemampuan dan kemampuan mengintegrasikan berbagi buah pikiran dan sumber informasi kedalam suatu pola berpikir tertentu, yang disertai dengan keterampilan pemecahan masalah. Integrasi buah pikiran itu membutuhkan dukungan kemampuan untuk mengekspresikannya. Tanpa dukungan kemampuan mengekspresikan buah pikiran secara teratur dan taat asas, maka kemampuan tidak terlihat secara utuh. Bahkan kemampuan itu secara sederhana sudah akan dapat kelihatan dengan jelas dalam pemilihan kata, penyusunan kalimat, penggunaan tanda baca, penyusunan paragraf dan susunan rangkain paragraf dalam suatu keutuhan pikiran.
3. Bentuk tes uraian lebih meningkatkan motivasi peserta didik untuk melahirkan kepribadiannya dan watak sendiri, sesuai dengan sifat tes uraian yang menuntut kemampuan siswa untuk mengekspresikan jawaban dalam kata-kata sendiri. Untuk dapat mengekspresikan pemahaman dan penguasaan bahan dalam jawaban tes, maka bentuk tes uraian menuntut penguasaan bahan secara utuh. Penguasaan bahan yang tanggung atau parsial dapat dideteksi dengan mudah. Karena itu untuk menjawab tes uraian dengan baik peserta tes akan berusaha menguasai bahan yang diperkirakannya akan diujikan dalam tes secara tuntas. Seorang peserta tes yang mengerjakan tes uraian dengan penguasaan bahan parsial akan tidak mampu menjawab soal dengan benar atau akan berusaha dengan cara membual.
4. Kelebihan lain tes uraian ialah memudahkan guru untuk menusun butir soal. Kemudahan ini terutama disebabkan oleh dua hal, yaitu pertama, jumlah butir soal tidak perlu banyak dan kedua, guru tidak selalu harus memasok jawaban atau kemungkinan jawaban yang benar sehingga akan sangat menghemat waktu konstruksi soal. Tetapi hal ini tidak berarti butir soal uraian dapat dikontruksikan secara asal-asalan. Kaidah penyusunan tes uraian tidaklah lebih sederhana dari kaidah penyusunan tes objektif.
5. Tes uraian sangat menekankan kemampuan menulis. Hal ini merupakn kebaikan sekaligus kelemahannya. Dalam arti yang positif tes uraian akan sangat mendorong siswa dan guru untuk belajar dan mengajar, serta menyatakan pikiran secara tertulis. Dengan demikian diharapkan kemampuan para peserta didik dalam menyatakan pikiran secara tertulis akan meningkat. Tetapi dilihat dari segi lain, penekanan yang berlebihan terhadap penggunaan tes uraian yang sangat menekankan kepada kemampuan menyatakan pikiran dalam bentuk tulisan yang dapat menjadikan tes sebagai alat ukur yang tidak adil dan tidak reliable. Bagi siswa yang tidak mempunyai kemampuan menulis, akan menjadi beban.

Tes uraian di samping memiliki kelebihan terdapat pula kelemahan-kelemahannya, yaitu :
1. Reliabilitasnya rendah artinya skor yang dicapai oleh peserta tes tidak konsisten bila tes yang sama atau tes yang parallel yang diuji ulang beberapa kali. Menurut Robert L. Ebel A. Frisbie (1986 : 129) terdapat tiga hal yang menyebabkan tes uraian realibilitasnya rendah yaitu pertama keterbatasan sampel bahan yang tercakup dalam soal tes. Kedua, batas-bayastugas yang harus dikerjakan oleh peserta tes sangat longgar, walaupun telah diusahakan untuk menentukan batasan-batasan yang cukup ketat. Ketiga, subjektifitas penskoran yang dilakukan oleh pemeriksa tes.
2. Untuk menyelesaikan tes uraian guru dan siswa membutuhkan waktu yang banyak.
3. Jawaban peserta tes kadang-kadang disertai bualan-bualan.
4. Kemampuan menyatakan pikiran secara tertulis menjadi hal yang paling membedakan prestasi belajar siswa.

Setelah Anda memahami kelemahan dan kelebihan bentuk tes uraian. Anda harus mempertimbangkan bagaimana tes uraian digunakan. Sebaiknya tes uraian digunakan apabila :
1. Jumlah siswa atau peserta tes terbatas.
2. Waktu yang dipunyai guru untuk mempersiapkan soal sangat terbatas.
3. Tujuan instruksional yang ingin dicapai adalah kemampuan mengekspresikan pikiran dalam bentuk tertulis, menguji kemampuan dengan baik, atau penggunaan kemampuan penggunaan bahasa secara tertib.
4. Guru ingin memperoleh informasi yang tidak tertulis secara langsung di dalam soal ujian tetapi dapat disimpulkan sari tulisan peserta tes, seperti : sikap, nilai, atau pendapat. Soal uraian dapat digunakan untuk memperoleh informasi langsung tersebut, tetapi harus digunakan dengan sangat hati-hati oleh guru.
5. Guru ingin memperoleh hasil pengalaman belajar siswanya.

Bentuk tes uraian dapat diklasifikasi ke dalam dua tipe yaitu tes uraian bebas (extended response) dan tes uraian terbatas (restricted response). Pembedaan kedua tipe tes uraian ini adalah atas dasar besarnya kebebasan yang yang diberikan kepada peserta tes untuk mengorganisasikan, menulis dan menyatakan pikiran dan gagasannya.
Selanjutnya akan dijelaskan kedua tipe tes uraian tersebut. Sebagaimana telah dikemukakan, perbedaan utama antara tes uraian bebas dan uraian terbatas tergantung kepada kebebasan memberikan jawaban. Jawaban yang diberikan oleh peserta tes dalam tes uraian bebas hampir-hampir tidak ada pembatasan. Peserta tes memiliki kebebasan yang luas sekali untuk mengorganisasikan dan mengekspresikan pikiran dan gagasannya dalam menjawab soal tersebut. Jadi jawaban siswa bersifat terbuka, fleksibel, dan tidak tersrtuktur. Contoh uraian bebas :

Uraikanlah perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia terhadap penjajah Belanda pada masa sebelum abad ke-20. Dalam uraian ini Anda hendaknya disertai dengan latar belakang dan contoh para pemimpinnya. Uraian anda hendaknya tidak melebihi 2 halaman folio.

Untuk menjawab contoh soal tersebut dibutuhkan kemampuan belajar siswa yang kompleks. Dalam menjawab soal tersebut siswa diberikan kebebasan untuk menjawab. Jawaban yang diberikan oleh siswa mulai pengetahuan fakta sampai mengevaluasi terhadap fakta-fakta yang diketahuinya, kemudian mengorganisasikan dalam pikiran dan bahasanya sendiri kedalam bentuk yang logis dan argumentative dalam bentuk narasi. Kemampuan membuat narasi dengan kata-katanya sendiri merupakan kemampuan dalam kategori jenjang yang tinggi. Dengan demikian kompleksitas jawaban pada soal uraian bebas terletak pada tercakupnya berbagai jenjang kemampuan. Pembatasan jawaban hanya terletak pada banyaknya uraian yang harus dibuat untuk mempertimbangkan waktu yang digunakan dalam tes.

Tes Objektif
Pengertian tes objektif adalah tes atau butir soal yang telah mengandung kemungkinan jawaban yang harus dipilih atau dikerjakan oleh peserta tes. Peserta tes hanya harus memilih jawaban dari alternatif jawaban yang disediakan.

Bentuk tes objektif secara umum memiliki 3 tipe yaitu
a. Benar-salah (true false)
b. Mejodohkan (matching)
c. Pilihan ganda (multiple choice)
Tipe butir soal benar-salah adalah butir soal yang terdiri dari pernyataan yang disertai dengan alternative menyatakan pernyataan tersebut salah atau benar, atau keharusan memilih satu dari dua alternatif jawaban lainnya.

Butir soal benar-salah memiliki kekuatan antara lain :
1. Mudah dikontruksi.
2. Perangkat soal dapat mewakili seluruh pokok bahasan.
3. Mudah diskor.
4. Alat yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama berkenaan dengan ingatan.

Adapun kelemahan butir soal tipe benar-salah adalah :
1. Mendorong peserta tes untuk menebak jawaban.
2. Terlalu menekankan kepada ingatan.
3. Peserta tes harus selalu memberikan penilaian absolut.

Beberapa petunjuk yang merupakan persyaratan dalam penulisan butir soal benar-salah yaitu :
1. Setiap butir soal harus menguji atau mengukur hasil belajar peserta tes yang penting dan bermakna, tidak menanyakan hal yang remeh (trivial). Misalnya:
Lemah : Haji Samanhudi seorang pedagang batik dari solo
Lebih baik : Haji Samanhudi adalah pendiri Syarekat Dagang Islam.
2. Setiap soal haruslah menguji pemahaman, tidak hanya pengukuran terhadap daya ingat. Butir soal tidaklah dianjurkan untuk menguji kemampuan mengingat kata atau frase yang terdapat dalam buku ajar atau bacaan lainya. Misalnya:
Lemah : B-S : Bila penawaran banyak sedangkan permintaan sedikit maka harga akan turun.
Lebih baik : B-S : Pak udi membeli pakaian sangat murah karena di pasar barang itu tersedia banyak sedangkan yang membeli sangat jarang.
3. Contoh, soal pertama hanya menguji ingatan tentang hokum penawaran dan permintaan dalam ekonomi. Sedangkan dalam soal berikutnya peserta tes diuji dengan penerapan dari hokum permintaan dan penawaran.
4. Kunci jawaban yang ditentukan haruslah benar.
5. Butir soal yang baik haruslah jelas bagi seseorang peserta tes yang belajar dan jawaban yang salah kelihatan seakan-akan benar bagi peserta tes yang tidak belajar dengan baik.
6. Pernyataan dalam butir soal harus dinyatakan secara jelas dan menggunakan bahasa yang baik dan benar.
7. Butir soal benar-salah dapat dimodifikasi sehingga dapat meningkatkan daya bedanya dan mengurangi kelemahan utamanya yaitu mendorong penerkaan.

October 27th, 2009 by catur

Oleh: Veronica Colondam

Life Skills atau keterampilan hidup adalah keterampilan yang dibutuhkan setiap anak untuk survive dalam pergaulan dan hidupnya. Keterampilan ini dapat membantu mereka untuk dapat memilih hal yang tepat dan menghindar dari situasi yang mungkin dapat menjatuhkan mereka; termasuk memperkuat  pertahanan dan ketahanan mental anak yang membuat mereka resistan (terhadap tawaran narkoba) dan resilient (berkemampuan untuk bertahan) dalam menghadapi masalah hidup.

Untuk menjadi orangtua yang efektif di era kini, Anda perlu memasukan aspek pengajaran life skills atau yang dikenal dengan istilah ‘keterampilan hidup’ kepada anak. Yang termasuk di dalam keterampilan hidup ini dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu:

–  Self-Improvement Skills: Keterampilan yang membangun diri anak (self-esteem, managing feeling/emotions, coping skills, decision making skills)

–  Relational Skills : Keterampilan yang membangun hubungan antara anak dengan lingkungannya (assertion, handling conflict, building positive relationships)

–  Lifelong Skills : Keterampilan yang membangun hidup dan masa depan anak yang bertujuan dan bermakna (goal setting, identifying talents/intelligence, the art to live meaningfully).

David Wilmes dalam bukunya Parenting for Prevention (1995) menyebutkan beberapa metode untuk mengajarkan anak berbagai keterampilan hidup:

–  Modeling adalah sangat penting bagi orangtua untuk menjadi teladan bagi anaknya. Sejak kecil anak memimik apa dan cara orang-tuanya hidup. Perkataan dan perbuatan jelas akan lebih ‘berbicara’ dibanding hanya memberikan nasihat. Bagaimana orangtua mengamalkan keterampilan hidup yang dimilikinya membuat anak belajar dari apa yang dilihatnya dan bukan apa yang dedengarnya saja.

–  Reinforcement adalah sebuah dorongan yang diberikan orangtua kepada anak saat si anak kedapatan melakukan hal yang baik, yang sesuai dengan harapan anda. Anda dapat memebrikan dorongan secara verbal (“Nak, kami bangga dengan kamu. Kamu bertanggungjawab dan melakukan semua pekerjaanmu dengan baik tanpa disuruh.”) atau nonverbal (memberikan acungan jempol, peluk atau sentuhan). Menurut Wilmes, “menangkap anak di saat berkelakuan baik” dan memberi mereka dorongan dan pujian adalah salah satu metode pengajaran yang sangat berpengaruh dalam perkembangan si anak.

–  Consistency apa yang anda ajarkan, bagaimana anda hidup, bagaimana anda bereaksi terhadap perbuatan anak dan peraturan yang telah disepakati adalah hal-hal yang orangtua harus lakukan secara konsisten. Jika tidak, hal ini akan membingungkan anak dan mengurangi rasa amannya.

–  Practice. Practice.Practice Beberapa ahli pendidikan mengatakan life skills perlu dipelajari dan dilatih dalam suasana yang berisiko rendah (dalam suasana rumah/keluarga) dalam rangka mempersiapkan anak untuk mempraktikkannya di lingkungan mereka yang sebenarnya, seperti di sekolah dan dalam lingkungan pergaulannya. Uji coba life skills dalam “lab rumah” ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak dan mempertajam keterampilan mereka ini untuk menghadapi situasi yang sebenarnya di luar.

–  Make rooms for mistake Sama seperti belajar naik sepeda, jatuh adalah hal yang lumrah.Pastikan anak anda merasa aman untuk berbuat kesalahan. Kesalahan ini sebenarnya dapat diminimalkan melalui latihan-latihan di atas. Jika anak melakukan kesalahan, upayakan kita tidak langsung’menerkam’mereka karena ini akan membuat mereka takut. Pada saat mereka takut, mungkin kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut bisa hilang sama sekali dan bisa jadi mereka akan menjadi ekstrem. Sampai mereka dapat misalnya membuat keputusan atas dasar pertimbangan yang baik, orangtua diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan sebagai pembimbing di saat anak membutuhkan nasihat.

–  Patience Tidak ada kata lain yang tepat untuk orangtua dalam hal mendidik anak. Kesabaran merupakan kunci utamanya walau sering kali sangat sulit untuk dilakukan. Wilmes menganalogika kesabaran seperti otot, semakin dilatih, semakin kuat.

adapted from http://www.pelangi-tc.com

July 3rd, 2009 by catur

Tidak semua orang bisa menikmati enaknya minuman dingin dan es krim, malah kalau bisa cenderung dihindari. Alasannya? Gigi terasa ngilu tajam saat bersentuhan dengan air es yang dingin. Pada sebagian orang, gigi juga bisa terasa ngilu saat terkena tiupan angin, atau saat berkontak dengan makanan yang asam. Hal ini sering kali dianggap angin lalu, dan penderita jarang datang ke dokter gigi untuk mengatasinya karena mereka menganggap ini bukan masalah  kesehatan yang serius.
Di kalangan kedokteran gigi, fenomena ini dikenal dengan dentin hipersensitivity. Tidak setiap rasa ngilu disebabkan oleh hipersensitivitas. Karies (lubang gigi) yang mencapai dentin juga dapat menimbulkan keluhan ngilu saat gigi berkontak dengan makanan/minuman dingin atau manis dan asam. Selain itu bisa juga karena gigi patah, karies sekunder yang terjadi di bawah tambalan.
Gigi ngilu bisa disebabkan oleh banyak hal, diantaranya gigi berlubang, gigi sensitif, dan resesi gingiva (gusi).

teeth

Nah, sebenarnya masih perlu ditelusuri lagi rasa ngilunya. Kapan terasa ngilu? apakah saat ada rangsang seperti minum dingin/ manis/ asam? atau tidak terkena rangsang apapun juga ngilu?  Lalu apakah pada gigi-gigi tersebut ada yang berlubang?
Bila ngilu terjadi saat terkena rangsang, dan gigi geligi dalam keadaan baik (tidak berlubang) kemungkinan besar mimi mengalami resesi gingiva atau keadaan dimana gusi yang menutupi akar gigi mulai aus, atau terbuka. Bagian akar gigi yang seharusnya tertutup gusi ini lebih sensitif daripada bagian mahkota. Oleh sebab itu kita merasa ngilu. Resesi gingiva paling sering disebabkan karena cara menyikat gigi kita yang salah, terlalu keras, dengan arah horisontal, atau bulu sikat yang terlalu kasar.

Untuk mengatasinya Anda bisa menggunakan pasta gigi khusus gigi sensitif, atau konsultasi dengan dokter gigi. Biasanya dokter akan menambal bagian akar yang terbuka atau mengaplikasikan fluoride.

Pencegahan dentin hipersensitif
Bahan makanan yang bersifat erosif seperti buah-buahan yang asam, jus buah yang asam, dan minuman beralkohol memegang peranan dalam dentin hipersensitif. Asam yang timbul dari lambung pada orang dengan masalah pencernaan juga rentan untuk mengalami dentin hipersensitif. Selain itu, menyikat gigi dengan pasta gigi yang abrasif juga dapat mengabrasi permukaan dentin di daerah leher gigi. Oleh karena itu, tidak dianjurkan untuk menyikat gigi langsung setelah mengkonsumsi makanan/minuman yang asam untuk mengurangi efek merusak dari asam dan abrasi. Sebaiknya diberi jeda waktu antara 2-3 jam. Menyikat gigi juga tidak perlu dengan tekanan berlebihan dan lakukan dengan arah vertikal dari atas ke bawah.

teeth2

Perawatan dentin hipersensitif
Perawatan dentin hipersensitif dapat dilakukan sendiri di rumah atau oleh dokter gigi di tempat praktek.
a. Perawatan di rumah
Pasien dapat mengurangi hipersensitivitas dentin di rumah dengan menggunakan pasta gigi dan obat kumur yang mengandung bahan aktif tertentu. Sebagian besar pasta gigi desensitisasi yang beredar di pasaran saat ini mengandung potassium salt seperti potassium nitrate, potassium chloride, atau potassium citrate. Konsumen dituntut jeli dalam memilih bahan pasta gigi yang mengklaim dapat mengurangi gigi hipersensitif. Telah dilakukan penelitian yang menguji efektifitas pasta gigi yang mengandung potassium citrate. Ion potassium diyakini dapat berdifusi ke tubuli dentin dan mengurangi kemungkinan terstimulasinya syaraf, sehingga hipersensitivitas dentin berkurang. Banyak pasta gigi yang juga mengandung bahan aktif lain seperti fluoride dan bahan antiplak.
Aplikasi fluor topikal membuat adanya penghalang di permukaan gigi dengan terbentuknya presipitat kalsium florida (CaF2) sehingga tubuli dentin tertutup. Akibatnya hipersensitivitas dentin dapat berkurang.
Cara menyikat gigi juga patut diperhatikan. Kebanyakan orang banyak berkumur-kumur setelah menggosok gigi. Sebetulnya kumur-kumur tidak perlu terlalu banyak karena kumur dengan air  dapat menyebabkan bahan aktif menjadi larut dan terbuang dari mulut sehingga efektifitas dari pasta gigi menjadi berkurang.

b. Perawatan oleh dokter gigi
Untuk mengurangi dentin hipersensitif, dokter gigi mengaplikasikan bahan desensitisasi yang tujuannya untuk menutup tubuli dentin sehingga mengurangi hipersensitifitas. Bahan tersebut dapat mengandung fluoride, atau potassium nitrate, atau bahan aktif lainnya. Namun, agen desensitisasi tersebut biasanya tidak bertahan terlalu lama, efeknya hanya sementara.
Selain itu bisa juga dilakukan perawatan dengan menggunakan bahan adhesive termasuk varnish, atau bagian dentin yang terbuka di daerah leher dan akar gigi ditutup dengan bahan tambal.

disarikan dari berbagai sumber

July 2nd, 2009 by catur

Laughter and humor help you stay emotionally healthy

Research has shown health benefits of laughter ranging from strengthening the immune system to reducing food cravings to increasing one’s threshold for pain. There’s even an emerging therapeutic field known as humor therapy to help people heal more quickly, among other things. Humor also has several important stress relieving benefits.

Laughter can heal your pain… reduce your stress… help you sleep like a baby… diffuse tense in difficult situations… boost your immunity… foster creativity… multiply your productivity… extend your life… expand your point of view… bond you to others… increase your charm and charisma… make you feel happier… and help you live in the moment.

Laughter makes you feel good. And the good feeling that you get when you laugh remains with you even after the laughter subsides. Humor helps you keep a positive, optimistic outlook through difficult situations, disappointments, and loss.
More than just a respite from sadness and pain, laughter gives you the courage and strength to find new sources of meaning and hope. Even in the most  difficult of times, a laugh–or even simply a smile–can go a long way toward making you feel better. And laughter really is contagious—just hearing laughter primes your brain and readies you to smile and join in on the fun.

baby laughter
The link between laughter and mental health
Laughter dissolves distressing emotions. You can’t feel anxious, angry, or sad when you’re laughing.
Laughter helps you relax and recharge. It reduces stress and increases energy, enabling you to stay focused and accomplish more.
Humor shifts perspective, allowing you to see situations in a more realistic, less threatening light. A humorous perspective creates psychological distance, which can help you avoid feeling overwhelmed.

Bringing more humor and laughter into your life
Anyone can join the laughter movement. All it takes is a willingness to risk some loss of control. The timid may start with a few shy giggles. The courageous may jump in with deep belly laughter. A sense of humor is not required. There’s more than enough stress to go around and absurdity abounds in our daily lives. All we have to do is believe, let go, clap our hands and laughter will live again. So will we. Laughter is feeling deeply which allows us to live fully.
Laughter is your birthright, a natural part of life that is innate and inborn. Infants begin smiling during the first weeks of life and laugh out loud within months of being born. Even if you did not grow up in a household where laughter was a common sound, you can learn to laugh at any stage of life.
Begin by setting aside special times to seek out humor and laughter, as you might with working out, and build from there. Eventually, you’ll want to incorporate humor and laughter into the fabric of your life, finding it naturally in everything you do.
Here are some ways to start:

1. Smile. Smiling is the beginning of laughter. Like laughter, it’s contagious. Pioneers in “laugh therapy,” find it’s possible to laugh without even experiencing a funny event. The same holds for smiling. When you look at someone or see something even mildly pleasing, practice smiling.
2. Count your blessings. Literally make a list. The simple act of considering the good things in your life will distance you from negative thoughts that are a barrier to humor and laughter. When in a state of sadness, we have further to travel to get to humor and laughter.
3. When you hear laughter, move toward it. Sometimes humor and laughter are private, a shared joke among a small group, but usually not. More often, people are very happy to share something funny because it gives them an opportunity to laugh again and feed off the humor you find in it. When you hear laughter, seek it out and ask, “What’s funny?”
4. Spend time with fun, playful people. These are people who laugh easily–both at themselves and at life’s absurdities–and who routinely find the humor in everyday events. Their playful point of view and laughter are contagious.
5. Bring humor into conversations. Ask people, “What’s the funniest thing that happened to you today? This week? In your life?”

[compiled from some sources]