February 12th, 2009 by catur

“Knowledge Management is a business philosophy. It is an emerging set of principles, processes, organisational structures, and technology applications that help people share and leverage their knowledge to meet their business objectives.”

Knowledge Management merupakan suatu paradigma pengelolaan informasi yang berasal dari pemikiran bahwa pengetahuan yang murni sebenarnya tertanam dalam benak dan pikiran setiap manusia. Maka dari itu perlu dibangun suatu mekanisme penyebaran informasi dan pengalaman dari sumber daya manuisa yang ada agar terjadi peningkatan pengetahuan dari masing-masing pelaku kegiatan di dalam suatu organisasi.

Knowledge Management (pengelolaan pengetahuan) adalah bagaimana manusia dapat mengumpulkan aset pengetahuan (knowledge asset) dan menggunakannya untuk mendapatkan keunggulan kompetitif.  Filosofi mendasar knowledge management adalah knowledge is power, share it and it will multiply. Melalui cara berpikir semacam ini diyakini bahwa Internet akan berperan besar dalam membuat masyarakat menjadi pintar. Hal inilah yang merupakan dasar bagi timbulnya masyarakat berbasis pengetahuan knowledge-based society).

Berbeda dengan konsep-konsep effisiensi prosedur, knowledge management di fokuskan untuk menjadi seseorang / sebuah institusi agar menang dalam kompetisinya karena memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada kompetitor-nya. Isu utama di knowledge management adalah competitiveness. Competitiveness tersebut di peroleh dengan cara mengelola pengetahuan yang kita miliki dengan baik dan effisien. (Onno W. Purbo)

Dalam pengelolaan pengetahuan, dikenal istilah explicit knowledge yaitu hasil pengetahuan yang telah berwujud misalnya skripsi, tugas akhir, laporan penelitian, buku dan semacamnya, serta tacit knowledge berupa pengetahuan yang masih tersimpan dalam kepala pemiliknya. Internet merupakan platform yang amat menunjang pertukaran tacit knowledge, sedangkan manajemen explicit knowledge akan ditunjang oleh pengembangan digital library dengan konsekuensi bahwa proteksi pengetahuan seperti hak atas kekayaan intektual (HAKI), hak cipta dan paten menjadi tidak relevan dalam pertukaran informasi yang cepat.

Dari sudut pandang Teknologi Informasi (TI), dinyatakan dengan mewujudkan suatu sistem yang dapat mendeteksi berbagai kreasi dari suatu organisasi pengetahuan baru dapat dengan mudah diidentifikasi, siapa orang yang membangun dan  atau menguasi suatu pengetahuan yang berguna bagi orang lain, hal ini diwujudkan oleh TI dengan bagaimana caranya agar dapat diakses secara bebas dan cepat

Perubahan dunia mengarah ke fenomena bahwa sumber ekonomi bukan lagi dalam bentuk money capital atau sumber daya alam, tapi ke arah knowledge capital. Karena knowledge memegang peranan penting, karena itu harus kita kelola. “the basic economic resource is no longer capital, nor natural resources, not labor. It is and will be knowledge” (Peter F. Drukker)

Siapa sebenarnya yang berkewajiban mengelola pengetahuan itu, individunya atau organisasinya? Sebenarnya setiap orang harus mengelola pengetahuan mereka sendiri, karena yang paling berkepentingan mendapatkan manfaat dari pengelolaan pengetahuan itu adalah individu.

Knowledge Management is not an end in its self. It is also fundamentally about sharing knowledge and putting that knowledge to use.

January 31st, 2009 by catur

In order to lead, you must serve

Beberapa atribut kunci dari seorang servant leader:
• Sabar (patient) – bisa menunjukkan self-control
• Baik (kind) – memberikan perhatian, apresiasi, dan dorongan
• Rendah hati (humble) – berwibawa tanpa pretensi atau arogansi
• Menghormati (respectfull) – memperlukan setiap orang sebagai orang penting
• Tidak egois (selfless) – memenuhi kebutuhan orang
• Pemaaf (forgiving) – marah pada tempatnya namun kemudian memaafkan
• Jujur (honest) – bebas dari kecurangan
• Komitmen (commitment) – konsisten dengan pilihan

Semua atribut perilaku tersebut akan mendorong kita untuk mau melayani dan berkorban kepasa sesama.
Hal ini dapat berarti bahwa mengesampingkan keinginan dan kebutuhan pribadi
untuk fokus kepada apa yang dibutuhkan oleh orang lain.

January 24th, 2009 by catur

We need to be willing and able to change. And learning is a key component in developing that ability.

Continuous learning is an attitude and a set of behaviors that allow us to succeed in our ever-changing environment, and is the best lever we have to turn who we are today into who we want to be tomorrow. Change requires learning and conversely, there is no learning without change.

So if life long learning doesn’t necessarily mean the “professional college student” and doesn’t require us to be the person who was always asking questions in every class we ever attended, what are the behaviors that make up a true continuous or life long learner?

There are some common threads among those who actively are learning and growing as professionals (and humans). Life-long, continuous learners:

  1. Have a beginner’s mindset. If you approach anything with the mindset of an expert, you will learn nothing. With the expert’s mind, you are looking for confirmation and validation of what you already know. A beginner on the other hand, looks constantly for one new tidbit, one or more ways to expand on their current expertise. In other words, expert or not, they don’t think that way, because they know that only with a open, beginners mind, can they benefit from the learning opportunity.
  2. Make connections. Peter Drucker, the famous and influential management thinker wrote, “To make knowledge productive we will have to learn to see both forest and tree. We will have to learn to connect.” Continuous learners do that. They continue to think about what they have learned in one part of their life and how it relates to and connects with challenges, problems, opportunities and situations that occur in other parts of their life.
  3. Are flexible and adaptable. Learning requires change, so continuous learners realize that they must be willing to adapt and change if they want to grow.
  4. Are always learning something. Continuous learners learn new things “just because.” They’ve always wanted to play guitar, so they take lessons. They want to ride a unicycle, so they try it. They learn how to quilt. They learn a new language. These people don’t invest the time required just so they can play “Love Me Tender” or say “good morning” in Chinese. They also do it because they realize that our brains are like muscles. The more we exercise them the stronger they will be.
  5. Are continuously curious. One of the most powerful learning questions we use is “Why?” Why is the question of the curious. Continuous learners remain curious about people, places, important and mundane things as well. By cultivating their curiosity they are adding to their knowledge and perspective, while exercising an important part of our learning brain at the same time.
  6. Learn in multiple ways. In school we learned in a relatively limited number of ways, which unfortunately leaves some people with a limited view of learning. Continuous learns know that they can learn by reading, by listening, by trying, through others, with a mentor, etc. (etc.!)
  7. Teach others. Something magical happens when you teach someone something – you suddenly understand it better yourself. Continuous learners teach others not just to help the other person (or to show them how much they know) but because they know it helps them deepen their mastery of their own learning.

Enjoy your journey.

(source : http://www.sideroad.com/)

January 24th, 2009 by catur

Student Centered Learning (SCL)

Kalau kita cermati, proses belajar yang diperoleh mahasiswa lebih banyak pada “belajar tentang” (learning about thing) daripada “ belajar menjadi” (learning how to be). Mereka belajar tentang hidup sehat, apa pengertian dan ciri-cirinya serta cara untuk mencapai hidup sehat, tetapi mereka tidak belajar bagaimana mengubah perilaku sehingga mencapai taraf hidup sehat. Sebagai contoh, siswa tahu bahw a merokok merupakan salah satu perilaku yang tidak sehat, tetapi banyak mahasiswa mencoba bahkan menjadi pecandu rokok. Tampaknya, pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan hasil transmisi informasi, belum merupakan sesuatu y ang dicari, digali, dan ditemukan sendiri sehingga betul-betul menjadi miliknya dan menjadi bagian dari kehidupannya.

Menurut John Dewey, pembelajaran sejati adalah lebih berdasar pada penjelajahan yang terbimbing dengan pendampingan daripada sekedar transmisi pengetahuan. Pembelajaran merupakan individual discovery. Pendidikan memberikan kesempatan dan pengalaman dalam proses pencarian informasi, menyelesaikan masalah dan membuat keputusan bagi kehidupannya sendiri. Melalui proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa maka fungsi dosen berubah dari pengajar (teacher) menjadi mitra pembelajaran (fasilitator).

Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada dosen (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (learner centered) diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Melalui proses pembelajaran dengan keterlibatan aktif mahasiswa ini berarti dosen tidak mengambil hak mereka untuk belajar dalam arti yang sesungguhnya. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa, maka mahasiswa memperoleh kesempatan dan fasilitasi untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas mahasiswa

Pembelajaran yang inovatif dengan metode yang berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning) memiliki keragaman model pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif dari mahasiswa Metode-metode tersebut diantaranya adalah: (a). Berbagi informasi (Information Sharing) dengan cara: curah gagasan (brainstorming), kooperatif, kolaboratif, diskusi kelompok (group discussion), diskusi panel (panel discussion), simposium, dan seminar; (b). Belajar dari pengalaman (Experience Based) dengan cara: simulasi, bermain peran (roleplay), permainan (game), dan kelompok temu; (c). Pembelajaran melalui Pemecahan Masalah (Problem Solving Based) dengan cara: Studi kasus, tutorial, dan lokakarya.

Metode pembelajaran berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning) kini dianggap lebih sesuai dengan kondisi eksternal masa kini yang menjadi tantangan bagi mahasiswa untuk mampu mengambil keputusan secara efektif terhadap problematika yang dihadapinya. Melalui penerapan pembelajaran yang berpusat pada sisw a maka mahasiswa harus berpartisipasi secara aktif, selalu ditantang untuk memiliki daya kritis, mampu menganalisis dan dapat memecahkan masalah-masalahnya sendiri.

Softskill

Sering juga disebut keterampilan lunak adalah keterampilan yang digunakan dalam berhubungan dan bekerjasama dengan orang lain. Secara garis besar keterampilan ini dapat dikelompokkan ke dalam: 1. Process Skills, 2. Social Skills, 3. Generic Skills.

Contoh lain dari keterampilan-keterampilan yang dimasukkan dalam kategori soft skills adalah etika/profesional, kepemimpinan, kreativitas, kerjasama, inisiatif, facilitating kelompok maupun masyarakat, komunikasi, berpikir kritis, dan problem solving. Keterampilan-keterampilan tersebut umumnya berkembang dalam kehidupan bermasyarakat.

Fakta-fakta yang ada di dalam kehidupan saat ini:

  1. Terjadi perubahan kehidupan bermasyarakat sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan lingkungan sosial telah mempersempit kesempatan mengembangkan keterampilan sosial.
  2. Penyesuaian diri terhadap persaingan hidup (baik kehidupan pribadi maupun dunia kerja) menuntut dikuasainya keterampilan (hard maupun soft).
  3. Pembelajaran tradisional yang lebih banyak dilakukan dengan satu arah, kurang memfasilitasi berkembangnya soft skills ini.

Meningkatnya kompleksitas kehidupan manusia telah banyak menyita waktu sehingga seringkali proses belajar cenderung dilakukan secara ’terlalu’ mekanis – dosen mengajar di depan kelas, mahasiswa mendengar dan mencatat. Di samping itu, bertambahnya stimulus di lingkungan mahasiswa pun menjadi salah satu distraktor bagi tercapainya efektivitas pembelajaran.

Banyak riset yang menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pembelajaran tradisional (kuliah satu arah), pembelajaran aktif ini memberikan peluang bagi mahasiswa untuk dapat menyerap lebih banyak materi pelajaran, mengingat dan memahami lebih lama, dan yang terpenting adalah menyukai aktivitas belajar itu sendiri. Mahasiswa harus melakukan hal yang lebih daripada sekedar mendengarkan.

Bahan bacaan :

  1. Tina Afiatin , Pembelajaran Berbasis Student-Centered Learning , Fakultas Psikologi UGM
  2. Neila Ramdhani, Active Learning & Soft Skills, UGM

January 23rd, 2009 by catur

Ngeblog tak jarang hanya dilakukan sekadar aktivitas musiman bagi sejumlah blogger. Jika mood menulis datang blog tersebut bakal rajin dikelola, namun sebaliknya jika mood si pemilik blog meredup, aktivitas blog itu pun ikutan sunyi.

Hal inilah yang menjadi kendala terbesar para blogger untuk selalu exist di blogosfer. Nah, bagi yang tak ingin menjadi ‘blogger musiman’ ada baiknya menyimak wejangan dari perintis WordPress, Matt Mulleweg agar acara ngeblog Anda menjadi lebih asyik.

1. Fokus ke Passion
Dari sekian pengetahuan menggunung yang Anda ketahui, pasti ada satu atau dua topik yang benar-benar menjadi passion atau yang paling diminati. Cobalah untuk meramaikan halaman blog Anda dengan passion tersebut, mau itu bidang fotografi, teknologi, bisnis atau yang lainnya.

Pasalnya, menurut Mullenweg, dengan semakin seringnya Anda menuliskan topik tersebut, secara tak sadar Anda akan lebih mahir di bidang itu. “Sebab, Anda akan membicarakan dan meng-update pengetahuan mengenai hal itu setiap hari,” ujarnya.

2. Jangan Menutup Diri
Menulis di blog juga tak sekadar sharing pengetahuan. Sekadar sharing perasaan yang tengah Anda rasakan juga dapat melatih kemampuan ngeblog Anda. Sedikit narsis memang, tapi cobalah untuk melakukan hal ini, karena nantinya Anda akan terbiasa untuk berbagi di blog terhadap sesuatu yang Anda anggap menarik atau rasakan.

3. Kunjungi ‘Tetangga’
Dunia blog amatlah luas dan tak terhingga besarnya. Layaknya manusia yang hidup di dunia nyata, ‘kehidupan’ di dunia blog juga tak terlepas dari interaksi dengan blogger lain.

Dengan melakukan ‘jalan-jalan’ santai di blog orang lain, wawasan Anda pastinya juga akan diperkaya. Tak hanya dari sisi pengetahuan, namun Anda juga bisa mengintip gaya tulisan hingga desain blog orang lain yang bisa diadopsi di blog Anda.

4. Practice Makes Perfect
Melahirkan gaya tulisan yang bagus dan khas sesuai cita rasa Anda tentunya tak bisa didapat dalam waktu singkat. Hal ini harus diiringi dengan latihan sesering mungkin yang jika sudah rutin dilakukan akan membuat tulisan Anda terasah dengan sendirinya.

Agar latihan menulis ini tak dianggap sebagai beban, anggap saja aktivitas ngeblog sebagai ajang untuk mencurahkan isi hati.

(source:detikinet.com)