November 23rd, 2009 by catur

Ditulis oleh: Veronica Colondam

Berapa banyak dari kita sering kali membiarkan TV atau Play Station atau Game Boy dan computer menemani anak-anak kita di saat kita sedang beristirahat sehabis pulang kerja atau di saat kita sibuk mengurus hal lain di rumah? Malah sering kali kita sengaja memutarkan video kesukaan anak demi sedikit privacy yang kita butuhkan di waktu-waktu tertentu; pada saat kita berolahraga, atau ketika kita sedang lelah atau sibuk meladeni si bungsu.

DAMPAK MEDIA
Sadarkah kita efek dari media (TV,CD/Radio, video,games,computer, dll) yang menemani anak-anak kita tumbuh? Walaupun pada awalnya media bertujuan mendidik, kini banyak pemilik media kehilangan arah ketika harus memilih antara tujuan komersial yang menaikan peringkat dan tujuan pendidikan ideal yang cenderung tidak selaris acara komersial. Karena itu, banyak pemilik media tidak lagi berpikir panjang. Demi kelangsungan bisnisnya, mereka tidak segan mengekspos seks, kekerasan dan kultur ‘tertentu’ serta mengeksploitasi anak dan remaja kita ke dalam tayangan yang bersifat komersial. Banyak pengalaman dari industri pertelevisian menggambarkan bagaimana produser tidak perlu melihat content acara tersebut akan laku dijual atau menjajikan peringat yang tinggi.

Sebuah studi oleh Kaiser Family Foundation di tahun 2001, seperti dikutip dalam buku James Steyer yang berjudul The Other Parent (2002), menemukan dua pertiga tayangan TV di Amerika Serikat (termasuk 84% sinetron dan sitcom) kini mengandung adegan seksual. Angka ini naik 58% dari tahun 1998. Bagaimana kondisi di Indonesia? Walaupun data resmi tentang hal ini belum menjadi perhatian public atau pemerintah, kondisi di Indonesia rasanya tidak jauh berbeda. Terutama ketika kini, banyak layanan TV kabel menyajikan acara film atau pertunjukan yang asalnya dari Amerika Serikat. Lebih jauh, ketika orangtua lengah, media (tayangan TV, game dan internet) bisa jadi adalah “orangtua kedua” yang membentuk kehidupan anak-anak kita.

Media mempunyai kekuatan besar untuk membentuk cara berbicara dan perilaku mereka, merumuskan citra diri mereka dan menentukan pengharapan mereka. Bahkan media berpotensi untuk membingungkan anak-anak ketika mereka diperhadapkan dengan kenyataan akan hal-hal yang memutarbalikan norma dan mendegradasi nilai. Rokok,alcohol dan narkoba jadi kelihatannya seperti ‘hal yang biasa’ dalam pergaulan, perilaku jahat terlihat ‘keren’,penyelesaian masalah dengan otot atau kekerasan atau yang paling ‘ringan’ adalah penciptaan citra perempuan yang cantik itu harus tinggi, putih dan ramping, berambut panjang, dan lain-lain.

Universitas Maryland di tahun 1980-an menemukan kini remaja Amerika Serikat menghabiskan waktu 40% lebih sedikit dengan orangtuanya dibanding remaja di tahun 1960-an;dulu mereka setidaknya menghabiskan waktu 30 jam seminggu bersama orangtuanya, kini tinggal 17 jam! Dan 40% waktu ‘sisa’ ini dihabiskan remaja di depan TV, mendengarkan radio/CD, bermain playstation/video games!

PARENTS, THINK ABOUT IT!
Jika ada ‘orang lain’ yang menghasilkan waktu 4-5 jam perhari dengan anak kita dengan terus-menerus mengekspos seks, kekerasan dan nilai-nilai komersial, bukankah kita akan melarang ‘orang ini’ untuk berhubungan dengan anak kita?

Sayangnya, kita cenderung seringkali secara pasif-terutama karena masih dalam fase “penyangkalan media”-membiarkan anak kita secara rutin terekspos kepada ‘orang ini’ bahkan tidak berbuat apa-apa. Lebih parah lagi malah kadang-kadang kita ‘menyodorkannya’ karena kita sibuk dengan hal yang lain.

Hidup untuk media ?
Berbagai studi menyatakan bahwa pada umumnya di zaman modern ini, seorang anak menghabiskan rata-rata 28 jam  seminggu atau 4 jam per hari di depan TV dan 2-4 jam mendengarkan radio/musik/CD. Itu berarti seorang anak menghabiskan 13 tahun hanya menonton TV ketika mereka berusia 75 tahun! Belum termasuk mendengarkan musik, radio dan internet. Dan tentunya “the unknown hours” saat kita tidur, yang kira-kira terakumulasi menjadi sepertiga waktu kita hidup: total 25 tahun habis untuk tidur saat kita berusia 75!

“Apakah arti hidup ini jika tidak meninggalkan sebuah legacy?”

Jadi, jika sepertiga hidup kita lalui dengan tidur dan ditambah dengan waktu yang terbuang di depan TV, bisa-bisa hidup kita akan lewat begitu saja tanpa kita sadari. Oleh karena itu, kita perlu belajar menghitung hari supaya kita dapat beroleh hati yang bijaksana. Bijaksana dalam menghidupi hidup ini, bijaksana dalam mengajar anak kita untuk menghargai waktu agar hidup ini jangan berlalu begitu saja tanpa memberi arti apa-apa. Apalah gunanya kita hidup jika tidak meninggalkan suatu kesan kepada orang di sekeliling kita?

Berapa banyak waktu yang anda lewatkan bersama anak anda?
Sebuah survei menemukan bahwa rata-rata ayah di Amerika Serikat hanya menghabiskan waktu selama kira-kira 15 menit per minggu per anak! Apakah ayah di Indonesia lebih baik?
Data yang didapat dari sebuah survei di Jakarta seperti yang dikutip pada halaman 84 menemukan kebanyakan ayah di ibukota “kurang investasi waktu” dengan anak sehingga anak sangat jarang bercengkrama dengan ayah dibanding dengan ibunya.
Dalam hubungannya dengan media massa, anak-anak jelas membutuhkan kedekatan dengan orangtuanya untuk dapat secara terbuka ‘membahas’ hal-hal yang ia lihat,dengar dan saksikan melalui media massa.

Orangtua berkewajiban untuk meletakkan nilai-nilai dasar yang membantu anak menyaring pesan-pesan dari media massa dengan cara:

1.Membatasi akses dan paparan anak-anak kita terhadap media, terutama ketika mereka masih muda.

2.Membantu anak memroses dan memahami pesan-pesan media untuk mengubah sebanyak mungkin pengalaman mereka dengan media mejadi pengalaman positif.

3.Mengisi waktu yang berharga dengan menonton TV bersama anak. Tentunya menonton pertunjukan yang sesuai dengan umur anak anda. Jika anda mempunyai beberapa anak, usia anak yang terkecillah yang harus menjadi patokan pemilihan siaran atau film.

Sumber:  Buku Raising Drug-Free Children

January 21st, 2009 by catur

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya. “Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”. “Aku tak mengerti” kata si anak lagi. Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?”Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”. Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.
Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis.

Pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan.”Ya Allah, mengapa wanita mudah sekali menangis?”Dalam mimpinya, Tuhan menjawab,”Saat Kuciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama.Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga, bahu itu harus cukup nyaman danlembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan, danmengeluarkan bayi dari rahimnya, walau, seringkali pula, ia kerap berulangkali menerima cerca dari anaknya itu.

Kuberikan keperkasaan, yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah, saat semua orang sudah putus asa.

Pada wanita, Kuberikan kesabaran, untuk merawat keluarganya, walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Kuberikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang, untuk mencintai semua anaknya, dalam kondisi apapun, dan dalam situasi apapun. Walau, tak jarang anak-anaknya itu melukai perasaannya, melukai hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada
bayi-bayi yang terkantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa-masa sulit, dan enjadi pelindung baginya. Sebab, bukankah tulang rusuklah yang melindungi setiap hati dan
jantung agar tak terkoyak?Kuberikan kepadanya kebijaksanaan, dan kemampuan untuk
memberikan pengertian dan menyadarkan, bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai istrinya. Walau, seringkali pula, kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang
diberikan kepada suami, agar tetap berdiri, sejajar, saling melengkapi, dan saling menyayangi.

Dan, akhirnya, Kuberikan ia air mata agar dapat mencurahkanperasaannya. Inilah yang khusus Kuberikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun ia inginkan. Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, air mata ini adalah air mata kehidupan”.

Maka, dekatkanlah diri kita pada sang Ibu kalau beliau masih hidup

(taken from : http://bund4gaul.multiply.com)
ibu
Note: Ibu maafkan anakmu. Aku belum mampu membahagiakanmu

January 21st, 2009 by catur

Suatu ketika, ada seorang anak wanita bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya:
Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan bada Ayah yang kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab : “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban Ayahnya.
Anak wanita itu berguman : ” Aku tidak mengerti.”

Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus menepuk nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan :
“Anakku,kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.”
Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya : “Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”

Ibunya menjawab: “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.”
Hanya itu jawaban Sang Bunda.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. ”

“Ku-ciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya & kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”

“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya. ”

“Kuberikan Keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang
menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya & yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”

“Ku berikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya. ”

“Ku berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai & mengasihi keluarganya, didalam kondisi & situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”

“Ku-berikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan padanya untuk memberikan pengetahuan & menyadarkan, bahwa
Istri yang baik adalah Istri yang setia terhadap Suaminya, Istri yang baik adalah Istri yang senantiasa menemani & bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada Istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari & menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia & BADANNYA YANG TERBUNGKUK agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya. ”

“Ku-berikan Kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai Pemimpin keluarga, sebagai Tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki..”

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut & berdoa. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayanya.
” AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung,
tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…

Note : To my beloved daughter and friends. Be grateful for what you got.