June 10th, 2010 by catur

Woman, I can’t hardly explain

a little child inside a man…

Pengunjung blog yang baik.

Kalau dalam tulisan ini saya menggunakan judul “Peterpan Syndrome”, bukan berarti mau ikut-ikutan meramaikan issue yang beberapa hari belakangan ini ramai dibicarakan orang. Sebuah issue yang menjadi trending topics di Twitter. Yang melibatkan sebuah grup band terkemuka, Peterpan.

Tema kali ini berkaitan dengan pria. Para pria yang terkena Peterpan Syndrome, cenderung berperilaku kekanakan dan menolak menjadi dewasa

Tanpa sengaja, topik itu terlintas, ketika sembari menunggu giliran potong rambut di salon langganan, saya buka lembaran majalah yang mulai lusuh. Ada pertanyaan yang menarik “Benarkah pria memang tak pernah dewasa ?

Lalu, background knowledge saya muncul, keluar istilah Peterpan Syndrome. Apa tandanya kalau para pria dikatakan tidak mau menjadi dewasa. Kata teman, kalau sakit manjanya minta ampun, suka ngambek, minta diperhatikan lebih, dan suka mengancam. Masih ada lagi katanya. Kalau sedang asyik dengan hoby-nya, sering lupa waktu. Huh…persis seperti anak kecil ! Kata teman saya, sambil menarik nafas.

Kalau mau jujur, bisa jadi sikap manja dan kekanakan para pria sebenarnya berasal dari sikap para wanita juga. Tidak percaya ? Cobalah sesekali menganalisa cara anda memperlakukan para pria di sekeliling anda.

Lalu, benarkah demikian ? Apa pendapat anda ?

June 6th, 2010 by catur

Pernahkah Anda merenungkan bahwa kecerdasan anak sangat berhubungan dengan persoalan bahasa?

Kecerdasan Bahasa memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa dan kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya.

Kecerdasan bahasa pada anak dapat menunjukkan sejauhmana kemampuan logika berpikirnya. Bila Anak pandai berbahasa, maka logika berpikirnya pun akan sebaik kecerdasan berbahasanya. Oleh karena itu sudah menjadi peran orangtua untuk mengembangkan kemampuan berbahasa batita Anda.

Menurut Dr Howard Gardner, yang dimaksud dengan kecerdasan berbahasa yaitu kecerdasan anak dalam mengolah kata. Contohnya, keterampilan yang dimiliki anak dalam menceritakan atau menggambarkan sesuatu dengan kata-kata. Kecerdasan bahasa termasuk di dalamnya kemampuan seorang anak dalam menggunakan bahasa dengan banyak variasi.

Anak-anak dengan kecerdasan bahasa yang tinggi, umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan suatu bahasa seperti: membaca, menulis karangan, membuat puisi, menyusun kata-kata mutiara, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini juga cenderung memiliki daya ingat yang kuat misalnya terhadap nama-nama seseorang, istilah-istilah baru maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal penguasaan suatu bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Gardner menegaskan, kecerdasan yang dimiliki seorang anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah tidak bisa dibiarkan berkembang sendiri. Potensi tersebut masih harus dibantu oleh orang-orang terdekatnya beserta institusi sekolah. Dengan cara ini diharapkan tumbuh kembang anak dapat lebih berkembang dan muncul ke permukaan.

Seorang anak di bawah umur belum mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memunculkan potensi yang ada pada dirinya. Stimulus yang diterima dari luar akan sangat membantu mengembangkan potensi kecerdasan pada diri anak. Stimulus semacam ini sangat berpengaruh kepada kemampuan kecerdasan berbahasa anak. Stimulus tersebut akan memengaruhi kemampuan otak anak dan akan bermuara pada keterampilan anak dalam mengolah kata-kata dan berbicara.

Sementara itu, kemampuan berbahasa anak yang lamban, biasanya terjadi bila anak jarang diajak komunikasi. Tanda-tandanya yaitu anak lebih sering berdiam diri dan tidak berbicara selama ia diajak berbicara oleh lingkungannya. Namun, biasanya anak dapat dinilai lemah dalam berbahasa ketika ia menginjak usia 5 atau 6 tahun. Karena, saat itu anak mulai memasuki bangku sekolah. Saat itulah anak dituntut untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan kawan-kawan lainnya.

Ada beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak. Selain mengajak bicara, membaca cerita, dan menyanyi, Anda dapat bermain drama dengannya. Atau Anda dapat memasukkannya ke dalam aktivitas drama yang kerap digelar oleh sanggar kesenian anak.

Selain cara-cara di atas, untuk mengembangkan kecerdasan bahasanya, Anda dapat bercakap-cakap dengannya tidak hanya dengan satu bahasa. Karena bila anak pandai berbahasa, maka kemampuan logika berpikirnya pun akan berjalan baik. Yang perlu Anda ketahui, bahwa pandai berbahasa bukan berarti menguasai banyak bahasa, namun anak Anda mempunyai kemampuan dalam mengolah bahasa.

Untuk dapat menerapkan kemampuan multibahasa pada anak, sebaiknya Anda harus melihat kematangan anak Anda sendiri. Sekiranya anak Anda belum siap untuk menerima multibahasa, jangan memberikannya. Karena bila Anda memaksa dan menjejalkan anak dengan beragam bahasa tadi, maka hasilnya anak akan mengalami kebingungan bahasa.

Yang jelas bahasa pertama yang harus Anda ajarkan adalah bahasa ibu. Apabila dia sudah menguasai dengan benar satu bahasa utama, bahasa ibunya, maka Anda dapat menambahkan dengan belajar bahasa kedua, ketiga dan seterusnya.

disarikan dari berbagai sumber

June 2nd, 2010 by catur

“Aku masih disini. Diantara orang-orang yang merajut masa depannya di kampus ini. Ada janji dan tanggungjawab yang harus tertunaikan. Juga sebuah idealisme yang harus diwujudkan. Rabbi, perkenankan kami…”

kontemplasi

Awal Juni, akhir dari kuliah semester ini. Yang tersisa adalah setumpuk berkas catatan dan kumpulan soal sebagai bahan menghadapi ujian. Sederet tugas akhir dan presentasi mesti ku selesaikan pekan ini. Huhh….what a hard week ? (Kucoba hembuskan nafas panjang. Lepaskan segala beban)

Pagi ini, seperti beberapa hari terakhir, hujan rintik-rintik perlahan semakin deras.  Menambah keengganan untuk segera beranjak menuju kampus. Sepertinya ramalan cuaca terbukti nyata, bahwa hujan dan badai sedang memuncak dan baru akan reda pada akhir Mei.

Duduk terpekur di sebuah sudut ruang kuliah. Menunggu dosen yang belum datang. Saya merasa perlu jeda untuk kembali menghirup udara segar mensuplai paru2 yang mulai pengap serta rasa kantuk yang menyergap. Ku tundukkan wajah.

Sejenak berkontemplasi…

Apakah Tuhan memberikan apa yang kita harap dengan mengantarkannya
dalam bungkusan yang indah ?

Tuhan tidak mengantarkan apa yang kita minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, dan kelihatannya sukar untuk dibuka.

”Mengapa demikian ?”

Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana kita membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan kita mendapatkan sesuatu yang diharapkan ada di  dalamnya. Karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta dan keikhlasan.

Aku merenung….

Cakrawala selalu mengingatkan kita bahwa di atas bumi selalu ada ruang tak terbatas. Di atas prasangka-prasangka subjektif tentang ketidakmampuan seorang manusia, ada ketidakterbatasan yang menjanjikan berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan lebih mampu.

Kita bukanlah siapa-siapa sobat. Kita hanyalah makhluk yang berakal tapi tidak berdaya.

Subhanallah ! 

May 30th, 2010 by catur

overtime

Seringkali pertanyaan ini muncul. “Long weekend. Kemana aja nih…?” Sebuah kalimat tanya yang akhir-akhir ini sering muncul dan seolah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Lifestyle kaum borju. Nampaknya istilah itu menjadi euphoria baru bagi kalangan urban dan pekerja. Rame-rame mudik. Stasiun, bandara, dan terminal padat ! Tiket habis !

Bagaimana tidak ? Jika hari Jumat hingga Ahad libur, itu berarti saatnya plesir. Menyegarkan diri setelah rutinitas kerja selama 1 minggu. Lihat saja tempat-tempat wisata, atau pusat-pusat perbelanjaan. Penuh sesak oleh pengunjung. Tapi, lihatlah toko buku, perpustakaan kota. Sepi….nyenyet…hening. Ironis memang ! Jogja yang katanya kota pelajar, tidak ada samasekali nuansa liburan yang lebih ’terpelajar’. Cobalah keliling kota, tidak satupun dijumpai spanduk atau ajakan untuk berlibur ke perpustakaan, atau sekedar membeli buku. Yang di-diskon cuma fashion dan sejenisnya. Huhh….miris juga.

Tentu orang ekonomi bilang. ”Jangan cuma dilihat dari segi itu dong. Cobalah dilihat dari sudut yang lebih makro. Tahu nggak, berapa uang yang beredar selama liburan ? Berapa persen kenaikan omset para PKL ? Berapa persen kenaikan tingkat hunian hotel ? Berapa rupiah uang masuk ke kas daerah ?” Halah….emang saya nggak belajar ekonomi ? Semua selalu saja diukur dengan materi dan finansial. Apakah ini yang dimaksud dengan ekonomi kapitalis ? Meski gak cumlaude, saya juga jebolan fakultas ekonomi bung… Sudahlah, saya tidak mau berpolemik. Itu kan cuma pendapat saya saja. Karena saya memang tidak mampu menghabiskan waktu untuk berlibur. Gitu kan…?

Ada yang perlu kita renungkan kembali. Benarkah mereka ‘stress’ atau ‘sumpek’ setelah bekerja dalam 1 minggu ? Pengalaman saya bekerja lebih dari 15 tahun membuktikan, dengan beban kerja yang boleh  dibilang ‘super’; saya dan teman-teman tetap saja merasa enjoy, nyaman, tanpa keluh-kesah. So, kalau ada yang bilang kecapekan, stress, de-el-el; padahal mereka bekerja ‘kantoran’; menurut saya mereka hanya manja, ‘aleman’.

Memang, resfreshing itu perlu. Apalagi bagi para pekerja atau pegawai yang sudah berkeluarga. Tentu saja, anggota keluarganya juga butuh perhatian dan kebersamaan. Namun tentu tidak harus dengan mengeluarkan ongkos yang boleh dibilang ‘over budget’ kan ?.

Seperti minggu ini, yang harus kami lalui dengan lembur di kantor. Kata teman, saya termasuk golongan POD (persatuan orangtua dholim). Hah…? Ya, karena tega meninggalkan keluarga meski long weekend. Demi sesuap nasi dan segenggam asa. Berharap proyek tahun ini lolos. Halah…sok puitis lagi. :))

Semoga tahun ini adalah tahun penuh kesuksesan den kecemerlangan ! Selamat berjuang kawan. Pengorbanan kalian tidak akan pernah sia-sia.

May 24th, 2010 by catur

Semburat lembayung senja tak menyurutkan semangat kami untuk mengejar deadline tugas kuliah jaringan komputer. Meski sejak pagi kami telah berkumpul di teras ini. Dan perut belum terisi hingga siang tadi. Terdengar celoteh aneh. Ada Threshold, Congestion Window, Slow start, Time Out…..Sesekali ditimpali gelak tawa. Suasana riuh..serius.

Sore itu suara dering telepon teman di sebelahku menghentikan diskusi tentang Congestion Avoidance.
 
“Apa ? Beneran Mas ?, Ah…aku nggak mau..!”. Tangis itu tiba-tiba pecah. Ada roman muka yang berubah pilu.
Airmata mengalir pelan. Membasahi pipinya. Gadis manis itu tertunduk. Dengan sebelah tangannya, ia tutupi wajahnya. Mencoba menyembunyikan rona kesedihan. Pilu. Disekanya sisa airmata itu dengan ujung jilbabnya.
Suasana segera saja menjadi hening. Senyap. Bahkan suara lalat pun tak terdengar.

Sejenak kami menunggu kabar darinya. “Ada apa mbak ?”, tanyaku ingin tahu. “Oma-ku meninggal”, katanya dengan nafas tertahan.
Entah…. air mata ku tiba-tiba mengalir begitu saja, aku ikut terharu.
Serentak kami mengucap “Innalillahi Wainnailaihi Rojiun”.

Lalu, ia sandarkan tubuhnya pada sebuah kursi kayu yang tertata rapi di teras rumah. Sudah rapuh memang, serapuh hatinya saat itu. Saat dimana ia harus menghadapi sebuah kenyataan hidup yang sebenarnya sudah ia bayangkan sebelumnya. Kehilangan orang yang amat ia cintai.

“Sabar ya mbak…Ikhlaskan. Barangkali ini yang terbaik buat Oma”, “Bukankah sudah beberapa waktu beliau sakit ?”, kataku mencoba menghiburnya.
“Ya pak…”, ucapnya lirih seraya menghapus sisa airmatanya.

Selamat Jalan Oma, kami semua sayang padamu.

[Pogung, 23 Mei 2010]