August 19th, 2011 by catur

I thank God for giving me a wonderful mother
She is the spirits of my life
Her charm of love is always there for me
Her lovingness and kindness can not be matched
I know how important of her presence at home
I never forget her difficult days that
she has gone through to bring me up
With all the struggle and pain she showed me
the right path to live in this world
I want to repay everything what ever I owe her
but I know there is nothing great enough to
repay the greatest mother on earth.
I only ask God to allow her to live long
because she is my wonderful mother.
I don’t know what I will do without her
She know how much she means to me
She gave me her love and
taught me the value of it
I learnt that love has no limit from her
and allow it to grow bigger and bigger in my heart
All, I know is that we should not be part
And her love for me is true.

Bunda…
di antara malam dan pagi aku terbangun
ku panjatkan sepenggal doa
semampuku.
Ijinkan aku bersujud di kakimu
memohon kau buka pintu maaf
atas sejuta khilaf
dan polah nakal masa kecilku.

February 28th, 2011 by catur

Ayah pernah berkata : “kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya di pasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu, jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya”

Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu, berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”

Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan :” jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”

Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik…. Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.

“The Wonder Of Dad”–Phillys Hobe

November 19th, 2010 by catur

Ya Allah,
Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum diminta,
berfikir sebelum bertindak,
santun dalam berbicara,
tenang ketika gundah,
diam ketika emosi melanda,
dan bersabar dalam setiap ujian.

Ya Allah,
jadikanlah kami orang yang selembut Abu Bakar,
sepintar Ali,
sebijaksana Umar,
sedermawan Utsman,
sesederhana Bilal,
setegar Khalid,
dan selayaknya mentari yang tidak bosan menyinari bumi.

August 11th, 2010 by catur

Menanti BerbukaSenja kali ini…terasa ada yang berbeda
Tak biasanya hati ini berkecamuk
Terasa ada yang tercekat di kerongkongan
Kering…
Ada rasa perih yang menyergap
Melilit…

Aku berdiri disini
Menatap lurus ke ujung barat
Begitu teduh dan temaram….
Berharap mentari segera ke peraduan
Berganti dengan Adzan Maghrib yang menggema…

Namun…
Senja ini bukan akhir dari segalanya
Senja bukanlah matahari yang terbenam
Senja bukanlah kembang di ujung barat
Senja itu sambutan
Dari setiap langkah penantian
menuju kokohnya iman

“Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah ditetapkan, InsyaAllah”

May 20th, 2010 by catur

Malam ini, kembali ibu bertanya.
“Cepatlah pulang, Anakku! Benarkah kau bertambah cantik?
Adakah kulitmu sudah putih? Masihkah kau suka memelihara
rambut panjangmu? Masihkah kau memakai kerudungmu?
Bibirmu masih bebas lipstik kan, Nak?”

Kujawab pertanyaan ibu dengan senyuman yang disertai tangisan.
“Ibu, Tuhan selalu menjagaku”.

Aku tertegun.
Terakhir kulihat binar matamu, ketika ku kenakan kebaya dan toga saat wisudaku. Dan seulas sedih rautmu saat ku putuskan pergi ke kota ini.
Terakhir ku cium lembut dan ku basahkan dengan titik air mata punggung tanganmu.
“Ibu… aku masih Rindu, aku masih betul-betul rindu!”

Suara parau itu kembali terdengar.
“Nak, berapa kali kita bertemu? Paling satu tahun sekali.”

Ibu, semoga waktu masih menjadi milik kita.
Ijinkan aku mencium punggung tanganmu, kerut dahimu.
Dan membelai lembut rambut putihmu.

Aku terdiam dan sedikit tertawa.
Ibu, aku rindu pada teduh sorot matamu, pada setiap ikhlas mu..
”Nanti bu, mungkin tahun depan aku akan pulang…”