April 23rd, 2010 by catur

Suatu ketika Hudzaifah bertemu dengan Umar bin Khatab yang saat itu menjabat sebagai khalifah.
Umar bertanya kepada Hudzaifah, “Bagaimana keadaan engkau pagi ini wahai Hudzaifah?”.
Hudzaifah menjawab, “Pagi ini saya suka fitnah, membenci kebenaran, sholat tanpa wudhu’, di bumi ini saya punya dimana Allah di langit sana tidak memilikinya”.
Mendengar perkataan seperti itu, spontan saja Umar marah. Tapi ia tidak berani meluapkannya, karena beliau tahu kedudukan Hudzaifah yang spesial di sisi Rasulullah.
Dalam suasana hati yang tak enak di antara kedua sahabat yang mulia ini, datang Ali bin Abi Thalib. Umar menyampaikan peristiwa yang barusan terjadi. Beliau berharap Ali berpihak kepadanya. Tapi Ali malah tersenyum ketika Umar selesai bercerita. Semakin panas hati Umar.
Karena tak ingin terjadi salah paham antara Umar dan Hudzaifah, Ali pun menjelaskan tentang perkataan Hudzaifah.
“Fitnah yang dimaksudkan oleh Hudzaifah adalah harta, anak. Saya pagi ini suka fitnah, maksudnya, saya pagi ini sedang menyukai anak dan mencari harta. Benci kebenaran, bukankah ada hadist yang menyatakan ‘Sorga, Neraka, Kiamat, Mati adalah haq’. Maksud beliau mengatakan pagi ini saya sedang benci kebenaran adalah saya tidak ingin segera mati. Sholat tanpa wudhu’? bukankah kata sholat bisa berarti do’a, salawat dan sembahyang. Yang dimaksud Hudzaifah dengan sholat tanpa wudhu’ adalah beliau bersalawat pada Nabi sementara keadaan beliau tiada berwudhu’. Sedangkan yang beliau maksudkan dengan saya punya di bumi ini sementara Allah tidak memilikinya di langit adalah anak dan istri, yang tentu tidak layak bagi Allah.”
Setelah mendengar penjelasan Ali tadi, barulah cair suasana dan kemarahan Umarpun mereda seketika.

May 23rd, 2009 by catur

Suatu hari raut wajah Rasululah tampak berseri-seri. Tak lupa beliau menampakkan senyumnya sampai kelihatan kilau gigi putihnya.
Maka Umar bertanya ada apa gerangan. “Kulihat ada dua orang dari ummatku yang mendatangi Allah ‘Azza wa Jalla.
Yang satu berkata, ‘Ya Rabby, hukumlah orang ini yang telah mengambil hak dan menganiayaku di dunia.’ Lalu Allah memerintahkan kepada si zhalim  tersebut agar mengembalikan haknya.
‘Ya Rabbi,’ kata si zhalim, ‘aku tidak lagi memiliki simpanan perbuatan baik yang bisa menggantikan haknya.’
‘Dia sudah tidak memiliki sisa-sisa perbuatan baik untuk menggantimu, lalu apa yang kau harapkan darinya?’ kata Allah kepada satunya.
‘Ya Rabbi, pindahkan kepadanya dosa-dosaku. Biar dia yang memikulnya,’ katanya.”
Tiba-tiba air mata Rasulullah mengalir membasahi pipinya karena mengenang hari-hari yang maha dahsyat itu.
Beliau berkata, “Hari itu adalah hari-hari yang maha dahsyat, hari di mana setiap orang berusaha untuk melepaskan setiap beban dosa yang dipikulnya.”
“Kemudian Allah berkata kepada si teraniaya, ‘Wahai Fulan, angkat pandanganmu dan lihatlah surga-surga yang tersedia.’
‘Ya Rabbi, saya lihat negeri-negeri yang terbuat dari perak dan istana-istana dari emas yang terhias indah dengan mutiara-mutiara yang berkilauan.
Apakah semua itu kau persiapkan untuk Nabi dan Rasul-Mu, para siddiqin dan orang-orang yang syahid?’ ‘Tidak,’ kata Allah.
‘Semua itu Kusiapkan bagi siapa saja yang sanggup membelinya.’
‘Siapakah mereka ya Rabbi?’
‘Engkau juga mampu memilikinya.’
‘Bagaimana caranya?’
‘Dengan memaafkan saudaramu itu.’
‘Kalau begitu, aku maafkan dia ya Rabbi.’
‘Ambillah tangan saudaramu itu dan masuklah kalian ke dalam surga yang Kujanjikan.’”
Kemudian Nabi mengakhiri kisah ini dengan pesan sabdanya, “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan berbuat baiklah dalam hubungan antar sesama. Sungguh Allah swt akan mendamaikan antara orang-orang yang beriman kelak pada hari kiamat.”

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang , Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (Ali Imran : 133-134)

May 23rd, 2009 by catur

Seorang ibu guru SD ingin menanamkan kepada murid-muridnya bahwa membenci orang itu tidak baik, dan memberi maaf adalah lebih utama. Beliau menyuruh setiap anak muridnya menuliskan nama orang-orang yang mereka benci. Ada yang menulis nama satu orang, ada yang sampai menulis lima nama orang yang dibenci. Nama-nama orang yang mereka benci itu ditulis pada secarik kertas, kemudian ditempelkan pada kentang yang sudah direbus dan disimpan dalam kantong plastik. Para murid ini disuruh menyimpan kantong plastik kentang tadi di dalam tas sekolah mereka, dan tidak boleh dikeluarkan.
Setelah lebih dari satu minggu mereka mulai mengeluh tentang bau busuk dari kentang yang selalu ada dalam tas sekolah mereka. Ketika semua murid sudah berada dalam kelas, ibu guru menyuruh mereka mengeluarkan kantong plastik berisi kentang busuk dan mengeluarkan kentangnya. Beberapa dari murid ada yang tidak tahan bau busuk kentang, dan bereaksi seperti mau muntah.
Ibu guru, sambil tersenyum berkomentar “Busuk dan menjijikkan bukan ?” Tentu saja mereka serentak menjawab sesuai dengan apa yang mereka alami dengan kentang tersebut. “Selama berhari-hari kalian membawa kentang busuk di dalam tas, menjadi beban bukan ? Demikian juga halnya beban yang kalian bawa selama berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan jika kalian membenci seseorang. Beban ini akan berkurang jika kalian berhenti membenci orang tersebut dengan cara memaafkan kesalahannya”.

(Adapted from: Bulletin Da’wah Al-Aman, Edisi 24/2009)

Rasul bertanya kepada para sahabat: “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, “tentu”. Rasul bersabda, ‘Kamu bersikap sabar kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.’” (HR Thabrani)

May 4th, 2009 by catur

Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain-Mu. Engkaulah yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku pun dalam ketentuan-Mu dan dalam janji-Mu, sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari sejahat-jahat kelakuan. Aku mengakui kenikmatan yang kau limpahkan kepadaku dan aku mengakui pula akan dosa-dosa-ku. Maka ampunilah aku, karena tak ada yang dapat menerima taubat atas dosa-dosa-ku selain Engkau sendiri.

Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad sebanyak aneka rupa rezeki. Wahai Dzat yang maha meluaskan rezeki kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakkanlah rezekiku dari segenap setiap penjuru dari perbendaharaan rezeki-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu juga. Dan, limpahkanlah pula rahmat dan salam atas dan para sahabat beliau.

Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.

Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha Terpuji, wahai Dzat Yang memulai, wahai Dzat yang mengembalikan, wahai Dzat yang mencintai. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain Engkau.

Wahai Allah, wahai Dzat yang amat murah hati, wahai Dzat yang Melapangkan rezeki, wahai Dzat Yang memiliki anugerah, wahai Dzat Yang maha kaya, wahai Dzat yang Maha membuka, wahai Dzat Yang Maha memberi rizki, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Hidup, wahai Dzat yang Maha berdiri sendiri, wahai Dzat Yang Maha Pengasih, wahai Dzat yang Maha Penyayang, wahai Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi, wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan Kemuliaan, wahai Dzat yang Maha Memberi, semerbakkanlah aku dari-Mu dengan semerbak yang bagus yang dapat mencukupi aku dari selain Engkau.

Dengan nama Allah, semoga Engkau menjaga diri kami, harta kami dan agama kami. Wahai Allah, ridhailah kamu dengan ketetapan-Mu dan berilah kami berkah kepada kami pada segala apa yang Engkau percepat apa yang Engkau akhiri dan tidak pula menyukai mengakhiri apa yang Engkau cepatkan.

Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri dan dengan-Mu aku percaya. Kepada-Mu aku bertawakkal dan kepada-Mu aku akan kembali serta dengan-Mu aku rindu. Tiada Tuhan selain Engkau, tak ada daya dan upaya melainkan dengan-Mu ya Allah.

Amiien.

February 20th, 2009 by catur

Hari Jum’at adalah hari istimewa bagi umat Islam. Dibanding dengan hari-hari selainnya, hari Jum’at termasuk hari yang paling istimewa. Mengingat keistimewaan hari tersebut, maka Rasulpun menyebutnya dengan khairul yaum, sebaik-baik hari, afdhalul ayyam, hari yang paling utama, atau sayyidul ayyam, hari yang paling mulia, bahkan kistimewaan hari Jum’at melebihi istimewanya hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha

“Sesungguhnya hari Jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang paling mulia) dan hari yang paling besar di sisi Allah bahkan lebih besar dari hari raya Idul Adha dan Idul Fithri. Pada hari itu terdapat lima peristiwa: Pada hari Jum’at Nabi Adam diciptakan, diturunkan ke bumi serta diwafatkan. Pada hari itu terdapat waktu yang hanya sesaat, dan barangsiapa pada saat itu berdoa kepada Allah niscaya doanya akan dikabulkan  selama tidak meminta sesuatu yang diharamkan dan tidak akan terjadi kiamat melainkan pada hari Jum’at.  Pada hari itu  tidaklah malaikat yang dekat kepada Allah, langit, bumi, angina, gunung dan lautan, melainkan semuanya merindukan datangnya hari Jum’at”  (HR. Ibnu Majah)

Pada hari itu ada saat dikabulkannya do’a. Yaitu saat dimana Allah akan memberikan apa saja yang diminta oleh hamba-Nya yang muslim.

“Sesungguhnya pada hari Jumat ada waktu yang apabila seorang muslim shalat bertepatan dengannya lalu ia meminta kepada Allah maka akan dikabulkan permintaanya dan Rasullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengisyaratkan dengan tangannya bahwa waktu itu sebentar. (HR.Bukhari dan Muslim)

Shalat Jum’at merupakan keistimewaan yang paling agung untuk hari ini.

Ibnu al-Qayyim mengatakan: “Keistimewaan yang ketiga adalah: shalat Jum’at, salah satu kewajiban yang amat penting dalam Islam dan merupakan salah satu momen besar berkumpulnya kaum muslimin, lebih besar dari momen-momen yang lainnya kecuali momen ‘Arafah. Orang yang meninggalkannya karena menganggap enteng dan malas-malasan, Allah akan mencap dan menutup hatinya, dan dekatnya penghuni sorga pada hari kiamat dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan kemenangan mereka untuk datang pada yaumul mazid tergantung kepada dekatnya orang tersebut pada hari Jum’at dari Imam serta kesegeraan datangnya ke masjid.”

“Siapa yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersegera berangkat menuju masjid, dan menempati shaf terdepan kemudian dia diam, maka setiap langkah yang dia ayunkan mendapat pahala puasa dan shalat selama satu tahun, dan itu adalah hal yang mudah bagi Allah”. (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, dinyatakan shahih oleh Ibnu Huzaimah).